Ia juga menceritakan mahalnya harga kebutuhan pokok akibat sulitnya akses transportasi.
“Bisa dibayangkan, harga satu bungkus garam sama dengan harga satu kilogram beras. Sementara hasil kebun kami tidak ada harganya. Harga sawit saat itu paling tinggi Rp500 per kilogram, sedangkan di luar daerah bisa mencapai Rp3.000. Akhirnya banyak buah sawit dibiarkan busuk di batang,” ujarnya.
Menurut Achirul, seluruh persoalan itu terjadi karena buruknya akses jalan. Ia pun bersyukur desa mereka akhirnya mendapat perhatian melalui program TMMD.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada TNI yang sudah memilih desa kami. Tanpa TNI, mimpi memiliki jalan bagus mungkin belum tentu terwujud,” katanya.
Ungkapan serupa disampaikan warga lainnya, Jali. Ia mengaku bersyukur karena kini akses menuju desa sudah jauh lebih baik.
“Terima kasih bapak-bapak TNI. Sekarang jalan desa kami sudah lancar. Jalan yang dibangun TNI ini adalah satu-satunya akses menuju desa kami, urat nadi kehidupan warga. Kami seperti dibangunkan dari mati suri berkat tangan dingin TNI,” ujar Jali.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden, Panglima TNI, Kasad, Dandim, hingga Pemerintah Kabupaten Sarolangun yang telah mendukung pembangunan desa mereka.
“Terima kasih Pak Presiden, Pak Panglima, Pak Kasad, Pak Dandim, dan Pak Bupati Sarolangun yang sudah membantu pembangunan desa kami,” ucapnya.
Jali berharap program seperti TMMD terus dilanjutkan karena dinilai sangat membantu masyarakat desa terpencil.
“Hanya orang-orang hebat yang bisa menyelesaikan pekerjaan sebesar ini dalam waktu singkat dan tepat waktu. Dengan dana terbatas, banyak pekerjaan bisa selesai hanya dalam satu bulan. Bravo TNI,” pungkasnya.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
